dari http://zpnas.wordpress.com
=========================
Cerita di Balik “ITB MUDA PROGRESIF”
“Lawan dari Hidup bukanlah Mati, tapi Menjadi Tua”
Simon de Beauvoir
Angkatan ITB muda tersebar di berbagai tempat dan meriap-riap dalam
upayanya berkarya bagi masyarakat yang terkadang masih mengalahkan
egoismenya sebagai manusia. Anak-anak muda ini marah tetapi tak mau
mencari kambing hitam pun tak mau menyalahkan siapapun. Kemarahan,
dalam bentuk positif tentunya menjadi bahan bakar yang ampuh yang dapat
diolah menjadi energi positif yang bercita-cita untuk membangun dan
berkarya dalam kesadaran. Diskusi-diskusi di antara teman-teman
mahasiswa atas kondisi bangsa dan kiprah yang cenderung melemah dari
penggerak bangsa yang tergabung dalam status alumni ITB, mantan
mahasiswa yang cenderung menjadi harapan bangsa adalah awal dari segala
sesuatu. Diskusi antara Zaid Perdana Nasution (TL96), Diding (PL96),
Hokky Situngkir EL96), Ariemulyo Nugroho (KI96), Muhammad Kurniawan
Ginting (TI96), Efri (TM96), Wahyu Nugroho (TI96), Ilham (TK96), Nando
(TL96) bersama-sama dengan generasi yang tak jauh usianya seperti Deni
Khanafiah (KI98), Rolan Mauludy (TI00), Adrian Maulana (MT01), Hoferdy
Zawani (PL01), Kurniawan Hadi Yusro (FI01) yang kemudian melebar ke
sebuah forum yang menyertakan berbagai kalangan yang memberikan
dukungan termasuk di antaranya Abdillah Prasetya (FI98), Arief Haryanto
(FI98), Eka (SR96), Nomo (FA95), Berlin (KI00), Rovi (SI01) dan deretan
nama-nama lain akhirnya berkeinginan membentuk tim alumni ITB Muda
Progresif yang ingin menggunakan momentum suksesi kepengurusan Ikatan
Alumni IA (ITB) sebagai sebuah momentum perubahan demi progresifitas
dan harmonisasi demi kemashlahatan masyarakat seluasnya, kemahasiswaan
dan kehidupan kampus ITB, serta sinergisasi berbagai aktivitas
profesional alumni ITB.
Pertemuan tersebut digelar dengan melemparkan wacana ini pada hari
Sabtu 29 September 2007 yang dihadiri lebih dari 50 orang alumni muda
angkatan 95 ke bawah. Pertemuan ini secara tak terduga berubah menjadi
wacana untuk menyusun sebuah kekuatan alternatif untuk menjadikan IA
ITB menjadi wadah yang penuh warna semangat kemudaan yang bersih dan
progresif. Syarat yang mesti dipenuhi adalah mesti adanya dana sebesar
Rp 30 juta yang disetorkan pada pendaftaran dan Rp 100 juta sebagai
jaminan yang akan dikembalikan jika kandidat ternyata kalah, dukungan
dari setidaknya satu IA daerah dan satu IA jurusan. Tanpa diduga
pertemuan pada malam itu berakhir dini hari dengan sebuah kerelaan
orang-orang muda ini untuk ber-urunan dalam memenuhi syarat agar tim
dapat maju dalam bursa pemilihan yang akan diselenggarakan 17 November
2007. Dana terkumpul pada malam itu secara mengejutkan adalah lebih
dari Rp 24 juta yang sebagian besar adalah dana urunan sukarela dan
pinjaman lunak. Tim ITB Muda Progresif akhirnya terbentuk dengan Zaid
Perdana Nasution sebagai juru bicaranya.
Namun wacana ini banyak ditentang oleh banyak pihak yang lebih
mempertahankan status quo dan anti-progesivitas. Ungkapan-ungkapan
seperti “belum saatnya”, “kalian masih terlalu muda”. “kalian mesti
tahu ukuran baju kalian”, dan sebagainya berseliweran dan akhirnya
mengejawantah pada sulitnya mendapatkan dukungan dari IA Teknik
Lingkungan dan IA Medan. IA Teknik Lingkungan seolah terkunci rapat
oleh situasi kepengurusan yang agak ‘beku’ dan IA
Medan yang ngotot tidak memberi dukungan karena telah kelanjur
mendukung kandidat dari menteri sektretaris negara, Hatta Rajasa –
padahal jelas-jelas ada revisi Surat Keputusan yang membolehkan IA
daerah memberikan dukungan kepada lebih dari satu kandidat. Sikap IA
Jurusan Kimia yang demokratis akhirnya memberikan titik terang. IA
Jurusan Kimia menerbitkan surat dukungan kepada juru bicara Tim ITB
Progresif untuk maju sebagai Kandidat Ketua Umum IA ITB Pusat. Tindakan
demokratis dan upaya bersikap netral
ini didukung oleh IA Daerah Jawa Barat yang juga menerbitkan surat
dukungan pada malam sehari sebelum batas penyerahan formulir pada lewat
tengah malam tanggal 2 Oktober 2007. Antusiasme yang besar dari
kawan-kawan melalui komunikasi pesan pendek telepon selular dan e-mail
akhirnya memberikan pinjaman dana untuk melengkapi syarat yang
diberikan panitia.
Melalui urunan kawan-kawan dua mobil dirental untuk memberangkatkan
wakil tim ke Jakarta untuk mencatat sejarah alumni ITB dalam
pendaftaran diri sebagai calon kandidat. Tanggal 3 Oktober dana masih
kurang sekitar Rp 100 juta sebagai dana jaminan. Beberapa jam sebelum
berangkat, dengan bermodalkan semangat yang tinggi, maka Zaid Perdana
Nasution, Diding (PK96), dan Hokky (EL96) berutang Rp 80 juta kepada
Lembaga Swadaya Masyarakat Inisiatif Bandung, sebuah LSM yang telah
dibangun beberapa tahun oleh Diding dan Rp 20 juta dari Gaper (GL95)
sehingga cek Rp 100 juta menjadi sebuah realisasi. Komitmennya adalah
bahwa hutang ini akan di-share kepada seluruh rekan-rekan
pendukung, dan sebelum malam pemilihan harus sudah lunas, karena tak
mungkin kita maju dan menang dengan hutang yang dapat menjadi pintu
masuk bagi gagasan-gagasan yang tak mencerminkan idealisme yang
diusung. Jabatan publik bukanlah sebuah media investasi!
Dengan tanda ikat tangan berwarna merah putih, lebih dari sepuluh
anggota tim berangkat ke Jakarta: Jalan Surabaya. Pendaftaran secara
resmi diterima oleh Sekretaris Setyo Triyono (EL76), Bendahara Nimrod
Sitorus (TI74), Wakil Ket III Syauki (KI85), Tim Verifikasi Noor Cholis
(GD88) dan A. Munif (GD87). Epos perjuangan pun dimulai…