Apakah kami serius?

October 16th, 2007 by tunasnamaku

Ya tentu saja kami serius, saya juga serius. Mengumpulkan uang pendaftaran 130 Juta tentu saja hal yang sangat sulit bagi Zaid yang cuma seorang dosen, dan kami membantu mengumpulkannya dengan serius. Coba bandingkan dengan kandidat lainnya dan lihat seberapa mudah bagi mereka untuk keluarkan uang sebanyak itu dari kantong mereka. 130 juta itu tidak sedikit teman-teman, kita harus menang dan pasti menang.

Perubahan IA-ITB harus dipimpin oleh mereka yang muda. Kita adalah orang-orang muda yang percaya diri. Bukan sebuah keharusan bagi kita untuk mengikuti jejak langkah pendahulu kita. Semangat ini menunjukkan seberapa besar keinginan kita untuk melakukan perubahan di dalam IA-ITB. Dalam genggaman kita IA-ITB akan menjadi ramai. Dalam genggaman kita IA-ITB akan jauh lebih baik. Atensi yang besar dalam tim itb progresif memperlihatkan seberapa besar, seberapa banyak orang-orang yang ingin terlibat langsung dalam kepengurusan IA-ITB sebagai sebuah kesatuan tim yang solid. Sekre IA-ITB akan ramai dengan diskusi menarik tentang bangsa kita, tentang kemahasiswaan ITB, tentang bagaimana menjadikan IA-ITB menjadi sebuah Institut Riset Terkemuka.

Ketika orang semuda Zaid memegang jabatan ketua IA-ITB, akan lebih mudah bagi teman-teman muda untuk melakukan koreksi. Akan lebih terasa dinamis diskusi yang terjadi di dalam kepengurusan IA. Tidak perlu lagi seseorang harus melewati hambatan psikologis perbedaan umur yang jauh atau jabatan, untuk bisa menyampaikan pendapat. Bukankah itu salah satu prasyarat sebuah organisasi yang baik. Ketika seseorang merasa benar dia tidak perlu takut untuk menyuarakan pendapatnya.

Jika kita ingin memiliki sebuah IA-ITB yang bersih bukankah seharusnya kita memulainya dengan bersih pula. Atas dasar inilah semua laporan keuangan kita buka dalam blog zaid. Ini bukan kegiatan main-main, dan kita tahu akan hal itu. Tapi bukan berarti kita tidak bisa menikmati setiap detik, setiap perasan keringat usaha kita kan? IA-ITB haruslah dijalankan oleh orang-orang yang menikmati pekerjaannya. Tidak lagi ada sebuah sekre sebesar IA-ITB Pusat di Jl. Surabaya, yang seringkali kosong dan tidak ada orang di dalamnya.

Taska Nusantara

Cerita Soal Proggie

October 6th, 2007 by tunasnamaku

dari http://zpnas.wordpress.com
=========================
Cerita di Balik “ITB MUDA PROGRESIF”

“Lawan dari Hidup bukanlah Mati, tapi Menjadi Tua”
Simon de Beauvoir

Angkatan ITB muda tersebar di berbagai tempat dan meriap-riap dalam
upayanya berkarya bagi masyarakat yang terkadang masih mengalahkan
egoismenya sebagai manusia. Anak-anak muda ini marah tetapi tak mau
mencari kambing hitam pun tak mau menyalahkan siapapun. Kemarahan,
dalam bentuk positif tentunya menjadi bahan bakar yang ampuh yang dapat
diolah menjadi energi positif yang bercita-cita untuk membangun dan
berkarya dalam kesadaran. Diskusi-diskusi di antara teman-teman
mahasiswa atas kondisi bangsa dan kiprah yang cenderung melemah dari
penggerak bangsa yang tergabung dalam status alumni ITB, mantan
mahasiswa yang cenderung menjadi harapan bangsa adalah awal dari segala
sesuatu. Diskusi antara Zaid Perdana Nasution (TL96), Diding (PL96),
Hokky Situngkir EL96), Ariemulyo Nugroho (KI96), Muhammad Kurniawan
Ginting (TI96), Efri (TM96), Wahyu Nugroho (TI96), Ilham (TK96), Nando
(TL96) bersama-sama dengan generasi yang tak jauh usianya seperti Deni
Khanafiah (KI98), Rolan Mauludy (TI00), Adrian Maulana (MT01), Hoferdy
Zawani (PL01), Kurniawan Hadi Yusro (FI01) yang kemudian melebar ke
sebuah forum yang menyertakan berbagai kalangan yang memberikan
dukungan termasuk di antaranya Abdillah Prasetya (FI98), Arief Haryanto
(FI98), Eka (SR96), Nomo (FA95), Berlin (KI00), Rovi (SI01) dan deretan
nama-nama lain akhirnya berkeinginan membentuk tim alumni ITB Muda
Progresif yang ingin menggunakan momentum suksesi kepengurusan Ikatan
Alumni IA (ITB) sebagai sebuah momentum perubahan demi progresifitas
dan harmonisasi demi kemashlahatan masyarakat seluasnya, kemahasiswaan
dan kehidupan kampus ITB, serta sinergisasi berbagai aktivitas
profesional alumni ITB.

Pertemuan tersebut digelar dengan melemparkan wacana ini pada hari
Sabtu 29 September 2007 yang dihadiri lebih dari 50 orang alumni muda
angkatan 95 ke bawah. Pertemuan ini secara tak terduga berubah menjadi
wacana untuk menyusun sebuah kekuatan alternatif untuk menjadikan IA
ITB menjadi wadah yang penuh warna semangat kemudaan yang bersih dan
progresif. Syarat yang mesti dipenuhi adalah mesti adanya dana sebesar
Rp 30 juta yang disetorkan pada pendaftaran dan Rp 100 juta sebagai
jaminan yang akan dikembalikan jika kandidat ternyata kalah, dukungan
dari setidaknya satu IA daerah dan satu IA jurusan. Tanpa diduga
pertemuan pada malam itu berakhir dini hari dengan sebuah kerelaan
orang-orang muda ini untuk ber-urunan dalam memenuhi syarat agar tim
dapat maju dalam bursa pemilihan yang akan diselenggarakan 17 November
2007. Dana terkumpul pada malam itu secara mengejutkan adalah lebih
dari Rp 24 juta yang sebagian besar adalah dana urunan sukarela dan
pinjaman lunak. Tim ITB Muda Progresif akhirnya terbentuk dengan Zaid
Perdana Nasution sebagai juru bicaranya.

Namun wacana ini banyak ditentang oleh banyak pihak yang lebih
mempertahankan status quo dan anti-progesivitas. Ungkapan-ungkapan
seperti “belum saatnya”, “kalian masih terlalu muda”. “kalian mesti
tahu ukuran baju kalian”, dan sebagainya berseliweran dan akhirnya
mengejawantah pada sulitnya mendapatkan dukungan dari IA Teknik
Lingkungan dan IA Medan. IA Teknik Lingkungan seolah terkunci rapat
oleh situasi kepengurusan yang agak ‘beku’ dan IA
Medan yang ngotot tidak memberi dukungan karena telah kelanjur
mendukung kandidat dari menteri sektretaris negara, Hatta Rajasa –
padahal jelas-jelas ada revisi Surat Keputusan yang membolehkan IA
daerah memberikan dukungan kepada lebih dari satu kandidat. Sikap IA
Jurusan Kimia yang demokratis akhirnya memberikan titik terang. IA
Jurusan Kimia menerbitkan surat dukungan kepada juru bicara Tim ITB
Progresif untuk maju sebagai Kandidat Ketua Umum IA ITB Pusat. Tindakan
demokratis dan upaya bersikap netral
ini didukung oleh IA Daerah Jawa Barat yang juga menerbitkan surat
dukungan pada malam sehari sebelum batas penyerahan formulir pada lewat
tengah malam tanggal 2 Oktober 2007. Antusiasme yang besar dari
kawan-kawan melalui komunikasi pesan pendek telepon selular dan e-mail
akhirnya memberikan pinjaman dana untuk melengkapi syarat yang
diberikan panitia.

Melalui urunan kawan-kawan dua mobil dirental untuk memberangkatkan
wakil tim ke Jakarta untuk mencatat sejarah alumni ITB dalam
pendaftaran diri sebagai calon kandidat. Tanggal 3 Oktober dana masih
kurang sekitar Rp 100 juta sebagai dana jaminan. Beberapa jam sebelum
berangkat, dengan bermodalkan semangat yang tinggi, maka Zaid Perdana
Nasution, Diding (PK96), dan Hokky (EL96) berutang Rp 80 juta kepada
Lembaga Swadaya Masyarakat Inisiatif Bandung, sebuah LSM yang telah
dibangun beberapa tahun oleh Diding dan Rp 20 juta dari Gaper (GL95)
sehingga cek Rp 100 juta menjadi sebuah realisasi. Komitmennya adalah
bahwa hutang ini akan di-share kepada seluruh rekan-rekan
pendukung, dan sebelum malam pemilihan harus sudah lunas, karena tak
mungkin kita maju dan menang dengan hutang yang dapat menjadi pintu
masuk bagi gagasan-gagasan yang tak mencerminkan idealisme yang
diusung. Jabatan publik bukanlah sebuah media investasi!

Dengan tanda ikat tangan berwarna merah putih, lebih dari sepuluh
anggota tim berangkat ke Jakarta: Jalan Surabaya. Pendaftaran secara
resmi diterima oleh Sekretaris Setyo Triyono (EL76), Bendahara Nimrod
Sitorus (TI74), Wakil Ket III Syauki (KI85), Tim Verifikasi Noor Cholis
(GD88) dan A. Munif (GD87). Epos perjuangan pun dimulai…

Oleh-oleh dari Jakarta

October 3rd, 2007 by tunasnamaku

ada kabar gembira dari jakarta…

Pic06_1

kemaren malam Tim ITB Progresif telah berhasil memenuhi persyaratan administratif dan keuangan sebagai syarat pencalonan ketua IA ITB. malam tadi, Tim ITB Progresif resmi mendaftarkan Zaid Perdana Nasution sebagai calon ketua IA ITB yang baru.

bersamaan dalam daftar itu tertulis nama-nama anggota tim suksesnya yaitu; arief FI’98, Didink PL’96,  Rovi SI’01.

Pic11
Uang sebesar 30 juta yang menjadi salah satu syarat diberikan kepada panitia, dalam wadah plastik, berupa lembaran 100 ribu, 50 ribu, 10 ribu, 5 ribu, seribu, dan banyak sekali uang logam receh. uang ini dikumpulkan dari sumbangan teman-teman yang mendukung ide bersama ini dalam kurun waktu tiga hari.

Uang diberikan dalam bentuk pecahan-pecahan dan bukan cek dengan pertimbangan untuk menunjukkan uang yang dikumpulkan sebagai mana adanya dan protes terhadap keharusan seorang calon mengumpulkan uang sebesar itu agar dapat menjadi calon ketua IA. pantes aja ongkos jadi gubernur dan kepala daerah bisa mahal minta ampun, katanya ‘itu jelek’, tapi kok malah itb menjalankan pola-pola yang sama di dalam tubuhnya yang katanya institusi pendidikan.

menutup pertemuan itu; tim itb progresif diwakili arif fi’98 membacakan pernyataan sikap di depan panitia kongres IA ITB Pusat. baca pdf-nya agar lebih jelas.Pernyataan_1

Proposalnya Teman-teman

October 2nd, 2007 by tunasnamaku

Tulisan
ini berbentuk proposal. Karena ia berisi usulan. Proposal ini berbentuk ajakan
kerja bareng. Karena yang menulisnya tak hanya mau cuma bisa nge-dumel melihat
situasi yang ada. Proposal ini dibuat untuk menostalgia dan kekangenan pada
waktu yang belum lama untuk waktu yang tak lama lagi. Waktu dimana dulu kita
pernah bareng bikin front di mana kita bisa senang bersama dalam kejujuran,
cinta kampus, sambil melakukan sesuatu untuk kampus dan bangsa. Waktu di mana
suatu saat nanti kita mungkin akan ikut-ikutan terkooptasi dengan cara berpikir
sistem, saat kita nanti akan semakin tua, semakin ‘bijak’, semakin kebal dengan
ketidakberesan sistem dan sudah tak kritis lagi.

 
Proposal
ini untuk kawan-kawan yang muda, bukan usianya, tapi semangatnya untuk tetap ‘nakal’,
kritis terhadap tradisi, berusaha jujur dan tetap lantang atas ketidakberesan,
dalam suatu selimut kebersamaan dan suasana happy serta cinta dan kangen kita
pada kampus kita, ITB tersayang.

 
Tulisan
ini bertanya: mengapa, apa, bagaimana, dan siapa. Karena kita memang Cuma tertarik
untuk jawaban-jawaban itu. Sudah tak ada waktu lagi buat cerita panjang lebar,
toh kita sudah tahu kebanyakan hal garis besarnya. Karena kita belum lupa
dengan bagaimana kita memandang dunia ketika masih mahasiswa dulu.

untuk lebih jelas baca versi pdf-nya ajah

 

Rencana Gw

October 2nd, 2007 by tunasnamaku

gw akan kirim message ke anak-anak ITB yang gw cari di friendster. gw akan berbagi cerita tentang sebuah diskusi yang akhirnya memajukan seorang juru bicara untuk mewakili beberapa angkatan muda ITB.

message yang bakal gw kirim adalah….

Blog ini memang baru dibuat, dalam rangka memperkenalkan ide bersama beberapa angkatan muda. Gw terlibat dalam diskusi bersama mereka beberapa hari yang lalu. Yang menarik, dalam diskusi yang melibatkan angkatan ‘96 sampai ‘05 ITB ini, tidak ada rasa sungkan ataupun formalitas-formalitas dalam rapat bahkan seperti di dalam KM ITB. Semua yang datang tidak peduli masih muda bisa saja protes atau bertanya kenapa? Memang sih, kalau udah pada lapar, pasti yang paling muda yang akan disuruh beli makanan. tapi tidak berlaku kalau udah dalam urusan diskusi dan sumbang ide.

"Kenapa maju sekarang, apa nggak terlalu cepat?", "Kenapa tidak periode mendatang?", "Apa kita bisa menang?". Itulah beberapa pertanyaan yang keluar dari angkatan yang lebih muda dalam diskusi itu. He he… tentu yang lebih tua nggak mau kalah. Dengan tegas muncul jawaban, "Sekarang ini saat buat yang muda maju, kenapa justru yang muda menjadi lembek. Perubahan dirintis oleh orang-orang muda. Justru ketika kita sudah bulat tekad untuk memperbaiki keadaan IA ITB, kita tidak peduli apapun yang menghalangi di depan kita harus kita lewati. Kita orang muda punya energi lebih, punya semangat lebih, dan punya ide lebih. Kita yang berkumpul di sini adalah orang gila. Tapi kita semua pengagum orang gila bukan???

Setelah berlangsung dua jam pembicaraan awal, akhirnya semua sepakat untuk menjadikan Zaid Perdana Nasution sebagai juru bicara bagi Tim ITB Progresif. Karena mekanisme pemilu mengharuskan ada seorang calon ketua. Zaid dipilih karena sentralitasnya yang tinggi diantara teman-teman seangkatan.

setelah tulisan ini akan ada tulisan tentang bagaimana tim ini memandang IA ITB, sempatkanlah membacanya. Jika sepakat bergabunglah bersama kami…(maksudnya sih add gw dong…)

Pertanyaan terakhir, coba tebak, gw angkatan berapa?? becanda… tolong sebarkan juga message atau informasi ini supaya gaung progesifitas yang kami bawa semakin besar.

ini alamat url fs gw: http://profiles.friendster.com/tunasnamaku